Assalamualaikum

Assalamualaikum
Selamat datang di blog mama Bilqis

My Little Family is My Life

My Little Family is My Life
My Child

Kamis, 11 November 2010

Siapa mau dibilang PEMALAS?

Pernah dengar anak 5 tahun sudah hafal 10 juz Al-Qur’an? Saya pernah. Tahukah anda, Imam Syafi’i -rahimahullah- hafal Qur’an pada saat 7 tahun? Atau pernahkah membaca berita tentang profesor yang baru berumur 20 tahun? Saya pernah.

Jangan bilang bahwa kenyataan diatas adalah bohong. Jangan kira bahwa kehebatan-kehebatan seperti itu hanya muncul 1 kali dalam 100 tahun. Jangan bilang itu mustahil. Hal itu akan menjadi mustahil jika mereka orang MALAS.

Percayalah. Sungguh tidak enak menjadi pemalas. Rugi besar. Seseorang telah mengakuinya . Di saat orang lain berlari, pemalas diam. Saat orang lain berkembang, pemalas stagnan. Saat orang lain hebat, pemalas adalah pecundang. Sungguh, masih banyak yang harus dan bisa dikerjakan di dunia ini. Lebih lagi kita tidak tahu seberapa lama lagi time remainingkita. Bisa jadi besok, nanti, atau beberapa saat lagi sudah game over. Sudah cukupkah bekal kita? Yakinlah, belum. So, bukankah seharusnya kita mencari bekal sebanyak-banyaknya? Seperti kata pepatah “Siapa cepat dia dapat”. Dan pemalas, dapat sedikit saja, atau bahkan tidak dapat. Percayalah, jangan jadi pemalas.

Bagaimana pemalas itu? Pemalas itu:

Banyak tidur
Pemalas biasanya manut saran dokter untuk tidur malam minimal 8 jam. Kalau ia shalat shubuh, setelahnya tidur lagi. Ikut kuliah di kelas tidur lagi. Habis zhuhur tidur siang. Habis ashar ga ada kerjaan, tidur lagi. Masya Allah. Andaikan sehari kita tidur 8 jam, yaitu 1/3 hari, misalnya kita diberi umur 60 tahun, berarti 20 tahun telah kita habiskan hanya untuk tidur. Bukankah waktu kita terlalu berharga untuk itu?

Gemar ‘nyuruh’Karena malasnya, pemalas sering tidak mau mengerjakan sesuatu sendiri. Bahkan untuk keperluan pribadinya. Bahkan juga, pada hal sederhana yang tidak sulit dilakukan sendiri, misalnya mematikan lampu, mengambilkan barang, membukakan pintu, pemalas biasanya ‘nyuruh’ temannya, adiknya, atau pembantunya. Padahal Umar bin Khatab -radhiallhu’anhu’, seorang amirul mu’minin, presiden, ulama, orang terhormat, saat ia berada di atas kudanya dan pedangnya terjatuh, ia tidak ‘menyuruh’ pengawalnya, melainkan ia turun dari kudanya dan mengambilnya sendiri.

Suka menunda
“Ah besok saja”, “Ah nanti saja”. Begitulah pemalas. Ia menunda pekerjaan yang sebenarnya bisa dikerjakan, agar ia bisa punya waktu untuk bermalas-malasan, tidur, atau leha-leha yang lain. Bekerjanya setengah-setengah. Setengah dikerjakan, setengah ditunda. Ia merasa punya 100 nyawa, ia merasa masih hidup 1000 tahun lagi, ia merasa sangat yakin besok masih bisa melihat dunia, hingga ia menunda pekerjaannya.

Mengandalkan orang lain
Bila ada pekerjaan, permasalahan atau kesulitan, ia pun berkata “Ah nanti juga diselesaikan si Fulan” atau “Ah paling-paling si Fulan nanti yang mengerjakan”. Padahal ia sebenarnya bisa melakukannya. Pemalas nantinya akan menyesal bila ternyata si Fulan mendapatkan berkah dari pekerjaan yang ia lakukan.

Suka menganggap remeh
“Ah nanti saja lah ini khan gampang”. Hal yang remeh ia tunda untuk diselesaikan. Padahal kalau memang mudah, kenapa tidak segera diselesaikan saja? Biasanya si pemalas akan kelimpungan ketika hal-hal remeh yang ia tunda-tunda ternyata bertumpuk untuk segera diselesaikan.

Gemar berangan-angan
Si pemalas biasanya gemar berangan-angan tentang kemudahan-kemudahan hidup yang ia idam-idamkan. Misalnya, karena malasnya kerja, ia berangan tiba-tiba ditawari proyek besar, tiba-tiba dapat hadiah undian. Sehingga waktu-waktunya banyak dihabiskan hanya untuk angan-angan saja tanpa aksi yang nyata.

Memprioritaskan senang-senang
Mungkin kita sering dinasehati orang tua “Main boleh saja, tapi jangan mengganggu belajar ya”. Beda lagi dengan falsafahnya pemalas, “Waktu welajar jangan sampai menggangu waktu main”. Atau kadang ia beralasan “Masak belajar terus, sekali-kali senang-senang dong” namun nyatanya belajar, bekerja, yang bermanfaat cuma untuk sambilan saja, waktu-waktunya banyak dihabiskan untuk senang-senang, main-main, senda gurau, santai-santai, tidur, nongkrong, dll.

Hobi bergurau
Bercanda, nge-garing, bergurau, tidak buruk memang. Akan menjadi buruk bila berlebihan dan menjadi hobi. Bahkan Umar bin Khatab ra berkata “Banyak bercanda itu menjatuhkan wibawa dan mematikan hati”. Orang yang hobi bercanda, bila dinasehati, nasehatnya akan dibercandai, bila diingatkan, peringatannya akan dibercandai, ia tidak pernah mau serius, maka nasehat pun tak masuk ke hatinya. Hatinya mati. Pemalas, lebih suka berkumpul bersama teman-temannya kemudian bercanda-ria, ngalor-ngidul, tak bermanfaat. Dan ia pun tidak pernah betah berada dalam suasana serius, melainkan hanya sebentar saja.

Jorok
Saya mengamati bahwa hampir semua pemalas itu jorok. Malas mencuci, baju seminggu dipakai terus. Karena malas nyetrika, baju kusut pun jadi. Karena malas, dapur penuh gelas-piring kotor dengan sisa-sisa makanan yang baunya naudzubillah. Kamar berantakan seperti kapal pecah. Dasar malas…

Kira-kira apalagi ya ciri pemalas?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar